Monday, 24 July 2017 - Buka jam 08.00 s/d jam 21.00
Home » Artikel » Cara Menentukan Awal dan Akhir Bulan Ramadhan

Cara Menentukan Awal dan Akhir Bulan Ramadhan

28 June , 2014 , Category : Artikel

1. Cara menentukan Ibadah Puasa dan Iedul Fithri

Awal puasa ditentukan dengan tiga perkara yaitu:

1. Ru’yah hilal (melihat bulan sabit).

2. Persaksian atau kabar tentang ru’yah hilal.

3. Menyempurnakan bilangan hari bulan Sya’ban.

Tiga hal ini diambil dari hadits-hadits dibawah ini :

1. Hadits dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata :

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HSR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081)

2. Hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma :

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang diantara kalian yang biasa berpuasa padanya. Dan janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya (hilal Syawal). Jika ia (hilal) terhalang awan, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari.” (HR. Abu Dawud 2327, An-Nasa’I 1/302, At-Tirmidzi 1/133, Al-Hakim 1/425, dan di Shahih kan sanadnya oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi)

3. Hadits dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu :

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Apabila datang bulan Ramadhan, maka berpuasalah 30 hari kecuali sebelum itu kalian melihat hilal.” (HR. At-Thahawi dalam Musykilul Atsar 105, Ahmad 4/377, Ath-Thabrani dalam Ak-Kabir 17/171 dan lain-lain)

4. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (ru’yah hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.” (HR. An-Nasa’I 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, sanadnya Hasan. Demikian keterangan Syaikh Salim Al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. Lihat Shifatus Shaum Nabi, hal. 29)

Hadits-hadits semisal itu diantaranya dari Aisyah, Ibnu Umar, Thalhah bin Ali, Jabir bin Abdillah, Hudzaifah dan lain-lain Radliallahu ‘anhum. Syaikh Al-Albani membawakan riwayat-riwayat mereka serta takhtrij-nya dalam Irwa’ul Ghalil hadits ke 109.

Isi dan makna hadits-hadits diatas menunjukkan bahwa awal bulan puasa dan Iedul Fithri ditetapkan dengan tiga perkara diatas. Tentang persaksian atau kabar dari seseorang berdalil dengan hadits yang keempat dengan syarat pembawa berita adalah orang Islam yang adil, sebagaimana tertera dalam riwayat Ahmad dan Daraquthni. Sama saja saksinya dua atau satu sebagaimana telah dinyatakan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ketika beliau berkata :

“Manusia sedang melihat-lihat (munculnya) hilal. Aku beritahukan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa aku melihatnya. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.” (HR. Abu Dawud 2342, Ad-Darimi 2/4, Ibnu Hibban 871, Al-Hakim 1/423 dan Al-Baihaqi, sanadnya Shahih sebagaimana diterangkan oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam At-Talkhisul Kabir 2/187)

Catatan dari hadits-hadits diatas (oleh saya/uli):

1. Penentuan hilal yang disyari’atkan dalam agama ini cukup melihat bulan dengan mata telanjang.

2. Menentukan awal masuknya bulan dengan metode hisab dibantu dengan ilmu astronomi tidak disyari’atkan dalam agama ini (bid’ah), perhatikan hadits-hadits seputar penentuan hilal diatas.

3. Allah menjadikan mudah agama ini, maka tidak perlu kita mempersulit diri.

2. Perbedaan Mathla’ (Tempat Muncul Hilal) dan Perselisihan Tentangnya

Hadits-hadits diatas menerangkan dengan jelas bahwa dalam mengetahui masuk dan berakhirnya bulan puasa adalah dengan ru’yah hilal, bukan dengan hisab. Dan konteks kalimatnya kepada semua kaum muslimin bukan hanya kepada satu negeri atau kampung tertentu. Maka, bagaimana cara mengkompromikan hadits-hadits diatas dengan hadits Kuraib atau hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhum yang berbunyi :

“Kuraib mengabarkan bahwa Ummu Fadll bintul Harits mengutusnya kepada Muawiyyah di Syam. Kuraib berkata : “Aku sampai di Syam kemudian aku memenuhi keperluannya dan diumumkan tentang hilal Ramadhan, sedangkan aku masih berada di Syam. Kami melihat hilal pada malam Jum’at. Kemudian aku tiba di Madinah pada akhir bulan. Maka Ibnu Abbas bertanya kepadaku – kemudian dia sebutkan tentang hilal — : ‘kapan kamu melihat Hilal?’ Akupun menjawab : ‘Aku melihatnya pada malam Jum’at. Beliau bertanya lagi : ‘Engkau melihatnya pada malam Jum’at ?’ Aku menjawab :’Ya, orang-orang melihatnya dan merekapun berpuasa, begitu pula Muawiyyah.’ Dia berkata : ‘Kami melihatnya pada malam Sabtu, kami akan berpuasa menyempurnakan tiga puluh hari atau kami melihatnya (hilal).’Aku bertanya : ‘Tidakkah cukup bagimu ruyah dan puasa Muawiyyah ?’ Beliau menjawab : ‘Tidak! Begitulah Rasulullah memerintahkan kami.’” (HR. Muslim 1087, At-Tirmidzi 647 dan Abu Dawud 1021. Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi di Shahih kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 1/213)

Dalam hadits Kuraib diatas dan hadits-hadits sebelumnya para ulama berselisih pendapat. Perselisihan ini disebutkan dalam Fathul Bari Juz. 4 hal. 147. Ibnu Hajar berkata : “Para Ulama berbeda pendapat tentang hal ini atas beberapa pendapat :

Pendapat Pertama :

Setiap negeri mempunyai ru’yah atau mathla’. Dalilnya dengan hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dalam Shahih Muslim. Ibnul Mundzir menceritakan hal ini dari Ikrimah, Al-Qasim Salim dan Ishak, At-Tirmidzi mengatakan bahwa keterangan dari ahli ilmu dan tidak menyatakan hal ini kecuali beliau. Al-Mawardi menyatakan bahwa pendapat ini adalah salah satu pendapat madzab Syafi’i.

Pendapat Kedua :

Apabila suatu negeri melihat hilal, maka seluruh negeri harus mengikutinya. Pendapat ini masyhur dari kalangan madzhab Malikiyah. Tetapi Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa ijma’ telah menyelisihinya. Beliau mengatakan bahwa para ulama sepakat bahwa ru’yah tidak sama pada negara yang berjauhan seperti antara Khurasan (negara di Rusia) dan Andalus (negeri Spanyol).

Al-Qurthubi berkata bahwa para syaikh mereka telah menyatakan bahwa apabila hilal tampak terang disuatu tempat kemudian diberitakan kepada yang lain dengan persaksian dua orang, maka hal itu mengharuskan mereka semua berpuasa…

Sebagian pengikut madzhab Syafi’i berpendapat bahwa apabila negeri-negeri berdekatan, maka hukumnya satu dan jika berjauhan ada dua :

1. Tidak wajib mengikuti, menurut kebanyakan mereka

2. Wajib mengikuti. Hal ini dipilih oleh Abu Thayib dan sekelompok ulama. Hal ini dikisahkan oleh Al-Baghawi dari Syafi’i.

Sedangkan dalam menentukan jarak (jauh) ada beberapa pendapat :

1. Dengan perbedaan mathla’. Ini ditegaskan oleh ulama Iraq dan dibenarkan oleh An-Nawawi dalam Ar-Raudlah dan Syarhul Muhadzab.

2. Dengan jarak mengqashar shalat. Hal ini ditegaskan Imam Al-Baghawi dan dibenarkan oleh Ar-Rafi’i dalam Ash-Shaghir dan An-Nawawi dalam Syarhul Muslim.

3. Dengan perbedaan iklim.

4. Pendapat As-Sarkhasi : “Keharusan ru’yah bagi setiap negeri yang tidak samar atas mereka hilal.”

5. Pendapat Ibnul Majisyun : “Tidak harus berpuasa karena persaksian orang lain…” berdalil dengan wajibnya puasa dan beriedul fithri bagi orang yang melihat hilal sendiri walaupun orang lain tidak berpuasa dengan beritanya.

Imam Syaukani menambahkan : “Tidak harus sama jika berbeda dua arah, yakni tinggi dan rendah yang menyebabkan salah satunya mudah melihat hilal dan yang lain sulit atau bagi setiap negeri mempunyai iklim. Hal ini diceritakan oleh Al-Mahdi dalam Al-Bahr dari Imam Yahya dan Hadawiyah.”

Hujjah ucapan-ucapan diatas adalah hadits Kuraib dan segi pengambilan dalil adalah perbuatan Ibnu Abbas bahwa beliau tidak beramal (berpuasa) dengan ru’yah penduduk Syam dan beliau berkata pada akhir hadits : “Demikian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kami.” Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menghapal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa penduduk suatu negeri tidak harus beramal dengan ru’yah negeri lain. Demikian pendalilan mereka.

Adapun menurut jumhur ulama adalah tidak adanya perbedaan mathla’ (tempat munculnya hilal). Oleh karena itu kapan saja penduduk suatu negeri melihat hilal, maka wajib atas seluruh negeri berpuasa karena sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ,”Puasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” Ucapan ini umum mencakup seluruh ummat manusia. Jadi siapa saja dari mereka melihat hilal dimanapun tempatnya, maka ru’yah itu berlaku bagi mereka semuanya.” (Fiqhus Sunah 1/368)

As-Shan’ani rahimahullah berkata, “Makna dari ucapan “karena melihatnya” yaitu apabila ru’yah didapati diantara kalian. Hal ini menunjukkan bahwa ru’yah pada suatu negeri adalah ru’yah bagi semua penduduk negeri dan hukumnya wajib.” (Subulus Salam 2/310)

Imam As-Syaukani membantah pendapat-pendapat yang menyatakan bahwasanya ru’yah hilal berkaitan dengan jarak, iklim dan negeri dalam kitabnya Nailul Authar 4/195.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa berkata : “Orang-orang yang menyatakan bahwa ru’yah tidak digunakan bagi semuanya (negeri-negeri) seperti kebanyakan pengikut-pengikut madzhab Syafi’i, diantaranya mereka ada yang membatasi dengan jarak qashar shalat, ada yang membatasi dengan perbedaan mathla’ seperti Hijaz dengan Syam, Iraq dengan Khurasan, kedua-duanya lemah (dha’if) karena jarak qashar shalat tidak berkaitan dengan hilal….

Apabila seseorang menyaksikan pada malam ke 30 bulan Sya’ban di suatu tempat, dekat maupun jauh, maka wajib puasa. Demikian juga kalau menyaksikan hilal pada waktu siang menjelang maghrib maka harus imsak (berpuasa) untuk waktu yang tersisa, sama saja baik satu iklim atau banyak iklim.” (Majmu’ Fatawa Juz 25 hal 104-105)

Shidiq Hasan Khan berkata : “Apabila penduduk suatu negeri melihat hilal, maka seluruh negeri harus mengikutinya. Hal itu dari segi pengambilan dalil hadits-hadits yang jelas mengenai puasa, yaitu “karena melihat hilal dan berbuka karena hilal” (Hadits Abu Hurairah dan lain-lain). Hadits-hadits tersebut berlaku untuk semua ummat, maka barangsiapa diantara mereka melihat hilal dimana saja tempatnya, jadilah ru’yah itu untuk semuanya …” (Ar-Raudhah An-Nadiyah 1/146).

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam mengomentari ucapan Sayyid Sabiq yang mendukung pendapat yang mewajibkan ru’yah bagi setiap penduduk suatu negeri dan penentuan jarak dan tanda-tandanya mengatakan : “… Saya –demi Allah- tidak mengetahui apa yang menghalangi Sayyid Sabiq sehingga dia memilih pendapat yang syadz (ganjil) ini dan enggan mengambil keumuman hadits yang shahih dan merupakan pendapat jumhur ulama sebagaimana yang dia sebutkan sendiri. Pendapat ini juga telah dipilih oleh banyak kalangan ulama muhaqiqin seperti Ibnu Taimiyyah, di dalam Al-Fatawa jilid 25, As-Syaukani dalam Nailul Authar, Shidiq Hasan Khan di dalam Ar-Raudhah An-Nadiyah 1/224-225 dan selain mereka. Dan inilah yang benar. Pendapat ini tidak bertentangan dengan hadits Ibnu Abbas (hadits Kuraib) karena beberapa perkara yang disebutkan As-Syaukani rahimahullah. Kemungkinan yang lebih kuat untuk dikatakan adalah bahwa hadits Ibnu Abbas tertuju bagi orang yang berpuasa berdasarkan ru’yah negerinya, kemudian sampai berita kepadanya pada pertengahan Ramadhan bahwa di negeri lain melihat hilal satu hari sebelumnya. Pada keadaan semacam ini beliau (Ibnu Abbas) meneruskan puasanya bersama penduduk negerinya sampai sempurna 30 hari atau melihat hilal. Dengan demikian hilanglah kesulitan (pengkompromian dua hadits) tersebut sedangkan hadits Abu Harairah dan lain-lain tetap pada keumumannya, mencakup setiap orang yang sampai kepadanya ru’yah hilal dari negeri mana saja tanpa adanya batasan jarak sama sekali, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Taimiyah di dalam Al-Fatawa 75/104 …(Tamamul Minnah, hal. 397)

3. Bolehkah Ber -Iedul Fithri Sendiri Menyelisihi Kaum Muslimin ?

Sekarang timbul permasalahan yaitu seseorang yang melihat ru’yah sendirian secara jelas, apakah dia harus beriedul fithri dan berpuasa sendiri atau bersama manusia ?

Dalam permasalahan ini ada tiga pendapat, sebagaimana yang dirinci oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 25/114 :

Pendapat Pertama :

Wajib atasnya berpuasa dan ber’iedul fithri secara sembunyi-sembunyi. Inilah madzhab Syafi’i.

Pendapat Kedua :

Dia harus berpuasa tetapi tidak ber’iedul fithri kecuali ketika bersama manusia. Pendapat ini masyhur dari madzhab Maliki dan Hanafi.

Pendapat Ketiga :

Dia berpuasa dan ber’iedul fithri bersama manusia. Inilah pendapat yang paling jelas karena sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (artinya) : “Puasa kalian adalah hari kalian berpuasa dan berbuka kalian (Iedul Fithri) adalah hari kalian berbuka (tidak berpuasa) dan Adha kalian adalah hari kalian berkurban. (HR. Tirmidzi 2/37 dan beliau berkata “hadits gharib hasan”. Syaikh Al-Albani berkata : “Sanadnya jayyid dan rawi-rawinya semuanya tsiqah. Lihat Silsilah Al-Hadits As-Shahihah 1/440)

Demikian keterangan Syaikhul Islam.

Bertolak dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu diatas, para ulama pun berkomentar. Di antaranya Imam At-Tirmidzi berkata setelah membawakan hadits ini : “Sebagian ahlu ilmi (ulama) mentafsirkan hadits ini bahwa puasa dan Iedul Fithri bersama mayoritas manusia.”

Imam As-Shan’ani berkata : “Dalam hadits itu terdapat dalil bahwa hari Ied ditetapkan bersama manusia. Orang yang mengetahui hari Ied dengan ru’yah sendirian wajib baginya untuk mencocoki lainnya dan mengharuskan dia untuk mengikuti mereka didalam shalat Iedul Fithri dan Iedul Adha.” (Subulus Salam 2/72)

Ibnul Qayyim berkata : “Dikatakan bahwa di dalam hadits itu terdapat bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa barangsiapa mengetahui terbitnya bulan dengan perkiraan hisab, boleh baginya untuk berpuasa dan berbuka, berbeda dengan orang yang tidak tahu. Juga dikatakan (makna yang terkandung dalam hadits itu) bahwa saksi satu orang apabila melihat hilal sedangkan hakim tidak menerima persaksiannya, maka dia tidak boleh berpuasa sebagaimana manusia tidak berpuasa.” (Tahdzibus Sunan 3/214)

Abul Hasan As-Sindi setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah pada riwayat Tirmidzi, berkata dakam Shahih Ibnu Majah : “Yang jelas maknanya adalah bahwa perkara-perkara ini bukan untuk perorangan, tidak boleh bersendirian dalam hal itu. Perkaranya tetap diserahkan kepada imam dan jamaah. Atas dasar ini, jika seseorang melihat hilal sedangkan imam menolak persaksiannya, maka seharusnya tidak diakui dan wajib atasnya untuk mengikuti jamaah pada yang demikian itu.”

Syaikh Al-Albani menegaskan : “Makna inilah yang terambil dari hadits tersebut. Diperkuat makna ini dengan hujjah Aisyah terhadap Masruq melarang puasa pada hari Arafah karena khawatir pada saat itu hari nahr (10 Dzulhijah). Aisyah menerangkan kepadanya bahwa pendapatnya tidak dianggap dan wajib atasnya untuk mengikuti jama’ah. Aisyah berkata : “Nahr adalah hari manusia menyembelih kurban dan Iedul Fithri adalah hari manusia berbuka.” (Silsilah Al-Hadits As-Shahihah 1/443-444)

Akan tetapi jika seseorang tinggal disuatu tempat yang tidak ada orang kecuali dia, apabila ia melihat hilal, maka wajib berpuasa karena dia sendirian di sana. Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ fatawa 25/117.

Terkadang seorang Imam meremehkan ketika disampaikan penetapan hilal dengan menolak persaksian orang yang adil, bisa jadi karena tidak mau membahas tentang keadilannya atau karena politik dan sebaginya dari alasan-alasan yang tidak syar’i, maka bagaimana hukumnya ?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam hal ini mengatakan : “Apa yang sudah menjadi ketetapan sebuah hukum tidak berbeda keadaannya pada orang yang diikuti dalam ru’yah hilal. Sama saja dia seorang mujtahid yang benar atau salah, atau melampaui batas. Tentang masalah apabila hilal tidak tampak dan tidak diumumkan padahal manusia sangat bersemangat mencarinya telah tersebut dalam As-Shahihah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang para imam : Mereka (para imam) shalat bersama kalian, jika mereka benar maka pahala bagi kalian dan mereka, dan jika salah maka pahala bagi kalian dan dosa atas mereka.” Maka kesalahan dan pelampauan batas adalah atas mereka bukan atas kaum muslimin yang tidak salah dan tidak melampaui batas.” (Majmu’ Fatawa, 25/206)

Jika timbul pertanyaan bagaimana hukum puasa pada hari mendung, pada saat hilal terhalang oleh awan sedangkan pada waktu itu malam yang ke 30 dari bulan Sya’ban ?

Dalam permasalahan ini, Abdullah bin Abdurrahman Ali Bassam menerangkan dalam kitab beliau Taudlihul Ahkam 1/139 sebagai berikut :

“Pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam Ahmad adalah wajib puasa pada waktu itu. Pengikut-pengikut beliau membela madzhabnya dan membantah hujjah orang yang menyelisihinya. Pendapat ini berdalil dengan hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma yang ada dalam Shahihain bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Apabila kalian melihat hilal (Ramadhan), maka puasalah dan apabila melihatnya (hilal Syawal) maka berbukalah. Jika mendung atas kalian maka kira-kirakanlah.” Dengan persempit bulan Sya’ban menjadi 29 hari.

Sedangkan Imam Malik, Syafi’I dan Hanafi berpendapat bahwa tidak disyari’atkannya puasa pada waktu itu, karena pada waktu itu adalah waktu keraguan yang dilarang puasa padanya. Mereka berdalil dengan hadits Ammar yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan : “Barang siapa berpuasa pada hari yang diragukan, maka dia sungguh telah bermaksiat kepada Abul Qasim Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .” Pendapat inilah pendapat Imam Ahmad yang sebenarnya.

Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughni bahwa riwayat dari Imam Ahmad menyatakan bahwa pada waktu itu puasa tidak wajib dan jika dia puasa, maka tidak dianggap puasa Ramadhan. Inilah pendapat kebanyakan ahlul ilmi (ulama).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan : “Tidak berpuasa (pada saat itu) adalah madzhab Imam Ahmad. Imam Ahmad juga mengatakan bahwa berpuasa pada hari yang diragukan adalah mendahului Ramadhan dengan puasa satu hari. Sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang hal itu. Yang masih diragukan adalah tentang wajibnya berpuasa pada hari itu, padahal tidak wajib dilakukan bahkan yang disunnahkan adalah meninggalkannya …. Kalau dikatakan boleh dua perkara, maka sunnah untuk berbuka itu lebih utama.”

Beliau (Ibnu Taimiyyah) berkata dalam Al-Furu : “Aku tidak mendapatkan dari Ahmad bahwa beliau menegaskan wajibnya dan memerintahkannya, maka janganlah (pendapat diatas) dinisbatkan kepadanya.”

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan murid-murid beliau memilih larangan berpuasa (pada waktu itu).

Syaikh Muhammad bin Hasan berkata : “Tidak diragukan lagi bahwa para peneliti dari kalangan madzhab Hambali dan selainnya berpendapat tentang tidak wajibnya berpuasa bahkan dimakruhkan atau diharamkan.”

Syaikh Abdul Lathief bin Ibrahim barkata bahwa orang yang melarang puasa (pada waktu diatas) mempunyai hujah hadits-hadits, diantaranya hadits Ammar : “Tidak boleh puasa pada waktu ragu.” At-Tirmidzi mengatakan bahwa berdasarkan hadits ini para ulama dari kalangan shahabat dan tabi’in beramal.”

Demikian penjelasan Syaikh Ali Bassam.

Dari keterangan diatas menunjukkan bahwa malam ke-30 dari bulan Sya’ban apabila tidak terlihat hilal karena terhalang oleh awan dan selainnya adalah waktu yang diragukan padanya puasa. Oleh karena itu Imam As-Shan’ani menegaskan : “Ketahuilah bahwa hari yang diragukan adalah hari ke 30 dari bulan Sya’ban apabila tidak terlihat hilal pada malam itu, karena ada awan yang menghalangi atau selainnya. Bisa jadi saat itu bulan Ramadhan atau Sya’ban. Dan makna hadits Ammar dan selainnya menunjukkan atas haramnya puasa (pada saat itu).” (Subulus Salam 2/308)

Kalau sudah jelas bahwa hari yang diragukan, maka tidak sepantasnya bagi seorang muslim untuk berpuasa sebelum Ramadhan satu atau dua hari dengan alasan ihtiyath (berhati-hati) kecuali kalau hari itu bertepatan dengan hari puasa (yang biasa ia lakukan).

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Qasim Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Janganlah kalian dahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari, kecuali orang yang biasa berpuasa (bertepatan pada hari itu), maka puasalah.” (HR. Muslim)

Shilah bin Zufar dari Amar berkata : “Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan, maka sungguh dia telah bermaksiat kepada Abul Qasim Qasim Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Lihat Shifatus Shaum Nabi Qasim Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karya Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Al-Hilali hal.28).

4. Hukum Hilal Yang Diketahui Pada Akhir Siang

Dari Umair bin Anas bin Malik dari pamannya dari kalangan shahabat bahwasanya ada sekelompok pengendara datang. Mereka mempersaksikan bahwa telah melihat hilal kemarin. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka untuk berbuka (Iedul Fithri) dan pergi pagi-pagi ke tanah lapang keesokan harinya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Tirmidzi 1/214, hadits ke 1026).

Hadits ini sebagai dalil bagi orang yang berkata bahwasanya sahalat Ied boleh dilakukan pada hari kedua, apabila tidak jelas waktu Ied kecuali setelah keluar waktu shalatnya. Pendapat ini adalah pendapat Al-Auza’I, At-Tsauri, Ahmad, Ishaq, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad, Syafi’I, dll… Dhahir hadits diatas menunjukkan bahwa shalat pada hari yang kedua itu adalah penunaian bukan qadla.” Demikian keterangan Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar 3/310.

Imam As-Shan’ani menyatakan : “hadits diatas sebagai dalil bahwa shalat Ied dilaksanakan hari kedua tatkala waktu Ied diketahui dengan jelas sesuadah keluar (habis) waktu shalat.” (Subulus Salam 2/133)

Demikian keterangan para ulama tentang masalah diatas yang menunjukkan bolehnya shalat Iedul Fithri pada hari kedua. Semoga tulisan yang diambil dari kitab-kitab para ulama ini bermanfaat bagi kita. Kesempurnaan itu hanya mutlak milik Allah Ta’ala sedangkan makhluk tempat khilaf dan kekurangan. Wallahu A’lam bis Shawab.

Catatan :

Khusus hilal Iedhul Adha sedikit berbeda, mengingat hari Ied baru tanggal 10 bulan Dzulhijjah, maka tinggal dihitung sepuluh hari mendatang setelah hilal nampak.

Info Lengkap Hubungi :
SMS/WA : 0815.4223.9023
PIN BBM : D7F18DB1
Instagram : @kedaisouvenir

* klik gambar produk


promo

Data Costumer Terbaru

Erna Jl. Prabu Siliwangi No 26 RT 22/05 Kel Tanjung Sari Jambi Timur
Mayor Inf. Frans K.P Kodam Jaya Jakarta Jl. Mayjend Soetoyo no 5 Cililitan Jakarta Timur
Bonita Komp. Bumi Pustaka Cinere Blok B 39 Jl. Bukit Cinere Raya Jakarta
Adi Rimbawa Mangkuyudan MJ III/300 Yogyakarta  
Laura Carolina Pondok Bahar Permai Jl. Rajawali II D5/24 Cilandak Tangerang  
Samuel Kusuma Taman Marunya Ilir Blok J8 No 24 Jakarta Barat
Akprind Jogja Jl. Kalisahak No. 28, Komp. Balapan Tromol Pos 45, Yogyakarta
Sari Fuji Lestari Jl. Wisma Bunda No 8A Kelurahan Kalumbuak kecamatan Kuranji Padang Sumatra Barat
Tri Mulyani Jl. Raya Parung Panjang No 81 Legok Tangerang
Sakura Shop (Sari Safaati D) Malangan II /160 RT 04/05 Kel. Tidar utara kec. Magelang Selatan Kota Magelang
Ratih Susanty JL. Tanah KUSIR Jakarta Selatan
Vridya Eratiastiwi Edi Toserba Jl. Raya Merah No 88 Simpang Tiga Kec. Purwakarta Kota Cilegon Banten
Henny UD Formula 68 Variasi Mobil Jl. Letjen Suprapto RT 04 No 5 Kampung Baru Depan Koramil lama Balikpapan Barat
Maria Cristy Aden Jl. Muwardi I no 24 Grogol Jakarta Barat
Indri hapsari Jl. Antariksa No 54 RT 009/02 Cipedak Jagakarsa Jakarta Selatan
Vemila Widja Paristina Jl Sekar Sari No 33 Denpasar Timur
Rina Puskesmas I Purwokerto Timur Jl. Adipati Mersi No 51 Purwokerto Timur
Faisal Komplek Gudang peluru Blok B-71 Jakarta Selatan
Esthi Wuryan utami Jl. Pinang Mas V Blok UW 16 Pondok Indah Jakarta Selatan
Sugiono Jl. Kihajar Dewantoro Gg. Tego No 100 RT 02/04 Kelurahan Sawah Ciputat Tangerang Selatan
Juliani /Suryani Wijaya Jl. Emas 36 C Kel. Sei Rengas Permata Kec. Medan Area Sumatra Utara
Nurbiansyah Jl Aspol Pelabuhan no 47 RT 01/04 Desa Pemangkat kota Kecamatan Pemangkat Kabupaten Sambas
Dr. Neni SPM RSCM Kirana Jl. Kimia No 8 Jakarta Pusat  
Ponco Magdalena Nagoya Newtown Blok E No 06-07 Batam
Ayu Chitra Farhadini Jl. Deltasari F2 No 27 RT 08/013 Taman Radio Dalam Jakarta Selatan
Risfa Beltasia (Neta) Jl. Matraman Dalam 2 RT10/08 No 15 Pegangsaan Menteng Jakarta Pusat
Rere Jl Jawa no 158 B Kepulauan Riau Kepri
Maya Jl. Daud No 7 G Kebon Jeruk Sukabumi utara Jakarta
Puji Rohyati Jl Abusamah Perum B I No 3891 RT 15 /03 Kel Sukajaya Kec. Sukarami Kota Palembang sumatra Selatan
Handoyo Plaza PP Jl. TB. Simatumpang No 57 Pasar Rebo Jakarta Timur
Ririn Erfiyana Kerujon Kec. Semendawai Suku III kab Oku Timur Sumatra selatan
Vici Ramadi Putra Jl. Setiabudi Gg. Haji Ridho I No 50 H Kamar No 4 Atas Bandung
Bpk. Markus Awa Craft International Batik Center & Craft Jl. A. Yani No 573 Wiradesa Pekalongan
Anindita Asri Nariswari SMA Sandes Sapientiae Jl. MT Haryono 908 Semarang
Ceciliae Jl. Kartini III No 1 Jakarta Pusat
Agma Yuniarlan Jl. Nusa Indah Komplek Feni jaya D1 No 6 Jakarta Selatan
Ibu Dewi KP CV. pandu Galang Perkasa Jl. A. Yani RT 58 No 3A Kel. GN Sari Ilir Balikpapan kalimantan Timur
Anna Muljani Telkom RDC Menara RDC LT 2 Jl. Geger kalong Hilir 47 Bandung
Ainy BPR Supra Jl. Siliwangi no 78 Cicurug Sukabumi
Ita Devi Jl. Jendral Sudirman KM 5 Irg Kalimantan RT 23 /06 kec. Muara Bulian Kab, Batang hari Jambi
Mariana Rizqy Jl. Pahlawan 284 Tambran Magetan
Rinie Puspitasari PT. Komatsu Reman Indonesi Jl. Jawa Blok A-05 KBN Cakung Cilincing Jakarta Utara
Dyas Kusuma (Mama Ditta) Jl. Yado 1 No 18 RT02/02 Gandaria Utara Kebayoran Baru Jakarta Selatan
KB/TK Labschol STAI Bani Saleh Perumahan Villa Taman Kartini Blok E No 5 Bekasi Timur
Suhardi Perumahan Alam Raya Blok A No 77 RT 04/11 Kel. Beledung Benda tangerang
Hadi Styabudi Jl. Kesehatan No 45 RT06/011 Kel Gedong pasar Rebo Jakarta Timur
Edy Jl Duta Harapan V No 51 Perumahan Duta Harapan Bekasi
Rina Fitri Jl. Persahabatan II No 43 RT 10/8 Kelapa Dua Wetan Ciracas Jakarta Timur
Laundry Super Wash Jl. Raya Tajem No. 20, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta,
Putu Widi Taman Himalaya Gg. Atlantik No 66 Perumahan Lipo karawaci Tangerang
Ibu Lia Gardenia Estate Blok B1 No 2 Cipayung Ciputat Tangerang selatan
Nurrohman Agus KRP Pratama Jakarta Cakung Dua Jl. Raya Bekasi KM 25 Ruko Inkopah Blok J Ujung Menteng Cakung Jakarta Timur
Ria Anggraienie Jl. Kalimantan No 3 RT 03/XIX Kel. Pahandut Palangkaraya Kalimantan tengah
Riandi Jl. Tengger barat 5 No 27 RT 03/07 Semarang
Diana Hari Otto Istana kawaluyaan Indah Jl. K.I. 1/22 Bypass Bandung  
Kusnaryani Indah Jl. H. Mugni 3 No 7 RT03/06 Pisangan lamaa III Jakarta Timur
Tina Ruko palm Paradise (Taman Surya S) Blok GG4 No 27 Jakarta Barat
Sri Fuji Astri PT Globalindo Agro Lestari Jl. Cikeusik Cibaliung kec. Cibaliung Kab. Pandeglang Banten Cibaliung kec. Cibaliung Kab. Pandeglang Banten

Ronald Bukit Indah Regency Blok B 3 no 3 Semarang
Tia Wahyu Perumahan Yasmin Sektor VII Jl. Bambu Apus Raya no 8 Bogor
Yanto M Hasibuan No 35 RT 4/24 kelurahan Margahayu kec. Bekasi Bekasi Timur Kota Bekasi
Kompol Efrannedy SIK AS Polres Kemaraja Jl. DR Muh. Hata No 2 ( depan BNI) Kel. Sodohoa Kec. Kendari Barat Kota Kendari Sulawesi Tenggara
Margaretha Putu Yulianti Jl. Uluwatu Perum Taman Penta Blok E 47 Jimbaran Bali
Intaning Dewi Jl. By Pass Nurah Rai No 100 sanur Bali (Osel Salon)
Djoko Suharjono Jl. Rawa Mangun Muka Selatan I No 1A Rawamangun Jakarta Timur
Nia Kurnia Komplek Riung Bandung Jl. Saluyu A9 No 26 Bandung
Silviana KMDG 2012 Jl. Grafk No 2 Kampus FT UGM Yogyakarta
Anindya HS Komp. BBD A1 No 17 Ciganjur Jakarta Selatan
Atet Sugiharto Green Sentul Residence A5/5 Sukaraja Bogor
Suci Erlina Jl. Perikanan No 30 RT 01/03 Bati Hitam Tanjung pinang
Ayu Indra nirmala RS. MH Thamrin No 3 Kebon nanas Cikokol Tangerang
Prita / Jimmy Regensi Melati MAS Blok C2 No 18 Serpong Tangerang
Kartika Jl. Kaliurang KMA 13 Perum Griya Perwita wisata Blok CS13 Sleman Yogyakarta
Lisa Jl. Arya Putra Perumahan Kedaung Hijau Bloko 12-13 Ciputat Tangerang Selatan
Nailurrida Jl. Imam Bonjol Gg. Basir No 24 B Pontianak Kalimantan Barat
Melsy Jl. Simpang Lubuk Begalung No 12 RT 3/3 Padang sumatra Barat
Yuliana PT Royalty Mineral Bumi Mulia Business Park Jl. MT Haryono Kav 58-60 Suite 102AE Gedung E Pancoran Jakarta Selatan  
Dewi Tefbana Jl. Perintis kemerdekaan Kel. Oebutu Kec. Obufu Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (kios Tiga Dara Depan Depot Bambu Kuning)
Safia Jl. Haji Nawi 106B Jakarta Selatan  
Arifin Perum Citra Raya Taman Chrysant Blok Q 2/6 Kec. Panongan Tangerang banten
Pipit Jl. Guntursari 3 No RT 3 / 4 Kel Turangga Kec. Lengkong Buah batu Bandung
Tri Yuliana Jl. Raja PLP Curug Kulon Tangerang 15810
Tata Vermont Parkland J2 No 2 Tangerang Selatan
Arie Jl. Bouganville Dalam No 46 Komp. Kejaksaan Medan Tuntungan
Sukandar PT Asia Dwi Mitra Industri Jl. Raya Legok Km 6,2 Cijantra Pagedangan Tangerang
Nurani Karmilah RSUD R Syamsudin SH Jl. Rumah sakit No 1 Sukabumi
Enny Chandra Hidayat Jl. Tasbih no 16X Singaraja Bali
Kiki Chusnul Huluqi Jl. Ciliwung No 37 Komplek Stadion Bima Cirebon
Naniera Sumardiningrat Putri Jl. Siaga Raya No 2b RT 18/01 Pejaten Barat Pasar Minggu jakarta Selatan
Riki Tri Santoso Jl. Ahmad A Wahab Kec. Limboto Kab. Gorontalo
Bulkis Kanata Jl. Swakarsa 3 Puri Citra Panji tilar E6 Mataram Nusa Tenggara Barat
Angel Pakayu Apartemen Gardenia Boulevard Jl. Warung Jati No 12 A Jati Padang Pasar Minggu Pejaten Jakarta Selatan
Sifa Jl. Bango 3 no 14 B Pondok labu Cilandak Jakarta Selatan
Arifin Perum Citra Raya Taman Chrysant Blok Q 2/6 Kec. Panongan Tangerang Banten
Pipit Jl. Guntursari 3 No 26 RT 03 /04 Kel. Turangga kec. Lengkong Buah Batu Bandung
Tri Yulia / Enong Syahrullah Jl. Raya PLP Curug Kulon Tangerang
Tata Vermont Parkland J2 No 2 Tangerang Selatan
Arie Jl. Bougnville Dalam No 46 Komp. Kejaksaan Medan Tuntungan
Sukandar PT Asia Dwi Mitra Industri Jl. Raya Legok KM 6,2 Cijantra Pagedangan Tangerang
Nurani karmilah RSUD R. Syamsudin SH Jl. Rumah Sakit No 1 Sukabumi
Enny Chandra Hidayat Jl. Tasbih No 16 x Singaraja Bali
Kiki Chusnul Chuluqi Jl. Ciliwung No 37 Komplek Stadion Bima Cirebon
Naiera Sumardiningrat Jl. Siagaraya no 2B RT 18/1 Pejaten Barat Pasar minggu Jakarta Selatan
Riki Trisantoso Jl. Jendral Sudirman no 38 kec. Limboto Kab. Gorontalo
Bulkis Kanata Jl. Swakarsa 3 Puri Citra Panjitilar E6 Mataram Nusa Tenggara Barat
Angel Pakayu Apartement Gardenia Bouleverd Jl. Warung jati No 12 A Jati Padang Pasar Minggi pejaten Jakarta Selatan
Sifa Jl. Bango 3 No 14 B Pondok Labu Cilandak Jakarta Selatan
Andika Putri Komplek Pasir Jati Blok D No 299 RT 05/11 Desa Jatiindah Kec, Cilengkrang Kab. Bandung
Rizki Nur Oktaviani Tiban I Blok C no 61 Kel.. patam lestari Kec. Sekupang kota Batam
Eris / Ventos Jl. R Tamilono Km 6.5 BTN Marina Permai II No 149 Palangkaraya Kalimantan Tengah
Agus Saryanto Jl. Kaliurang KM 17 Pakem tegal, Pakem Sleman Yogyakarta
Siti Muallifah Jl. Raya PPI Bulu, Gg tenggiri RT 15/5 Desa Banjarejo Kec. Banker, kab Tuban Jawa Timur
Linda Mayasari Jl. P Suryanata Gg 7 No 126 RT 26 Air Putih Samarinda Ulu , Kalimantan Timur